Mengapa kita harus ber’ilmu?

Kalaulah ada yg bertanya, kenapa kita harus ber’ilmu,

maka Allah berfirman yang artinya, “…Katakanlah : “Apakah sama orang2 yang mengetahui (ber’ilmu) dengan orang yang tidak mengetahui?” (QS Az Zumar : 9)

“…niscaya Allah akan meninggikan orang2 yang beriman diantaramu dan orang2 yang diberi ‘ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS Al Mujadilah : 11)

Rasulullah Saw pernah menginggatkan perihal prilaku tercela melalui hadisnya yang di riwayatkan oleh Imam Bukhari. Beliau Saw bertanya pada para sahabat tahukah kalian siapa yang disebut dengan Muflis atau orang bangkrut itu ?. Para sahabat menjawab, mereka adalah yang tidak berharta. Rasulullah Saw meluruskan jawaban itu dan bersabda. “Orang-orang yang bangrut dari umatku adalah mereka yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala seperti pahala shalat, puasa,zakat dsb, tetapi ia juga datang dengan membawa dosa-dosa karena ia menyimpan berbagai macam sifat dan perilaku tercela, menghina orang lain,memakan harta orang lain secara bathil, menuduh negatif orang lain,mengalirkan darah dan perilaku negatif lainya. Lantas segala pahala kebaikan yang ia miliki akan dialihkan pada mereka yang pernah ia sakiti. Bila pahalanya telah habis dan kesalahannnya masih menumpuk,maka dosa orang-orang yang ia salahi akan di bebankan padanya.Hingga akhirnya ia di lemparkan kedalam neraka jahanam”. ( HR Muslim).

Jelas akan sia-sia sekali kita beramal ibadah, sementara sifat dan perilaku tercela masih juga di pelihara dalam diri,dan hal ini disebabkan oleh kurangnya ilmu dalam beramal khususnya ilmu yang berhubungan dengan apa yang sedang kita lakukan dalam proses ibadah tsb. Ilmu dan amal adalah dua komponen yang harus berlandaskan pada keingginan untuk merealisasikan amaliah,ilmu dan amal tidak bisa di pisahkan,kehilangan salah satu dari keduanya akan menimbulkan kesalahan demi kesalahan bahkan kesesatan.

Tentang urgentnya ilmu ini Rasulullah pernah bersabda “ Siapa yang menghendaki kebahagiaan hidup dunia,harus dengan ilmu,dan siapa yang menghendaki kebahagian akhirat harus dengan ilmu dan barang siapa yang menghendaki kebahagiaan keduanya (dunia&akhirat) juga harus dengan ilmu”. (HR Tabrani). Dari uraian hadis Rasulullah Saw diatas tidak bisa di bantah lagi kalau setiap diri menginginkan kebahagiaan,kesenangan,keharmonisan dsb jalan satu-satunya yang harus di tempuh adalah dengan mempelajari,memahami akan ilmunya. Karena ilmu pengetahuan duniawi maupun ukhrawi memiliki peranan yang sangat penting didalam mewujudkan kedua keinginan tersebut di atas. Bahkan Allah Swt pun menempatkan orang yang berilmu beriman dan beramal saleh sesuai dengan ilmunya pada derajad yang paling tinggi. Jelasnya, Allah yang memiliki segala sesuatu dan maha pemberi pasti memuliakan derajat orang-orang yang didalam dirinya terdapat tiga hal yaitu keimanan yang kokoh, ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan selalu melakukan amal shaleh,sabar,ikhlas dan selalu bertawakal pada-Nya. Ilmu adalah landasan iman, hakekat pencarian ilmu pengetahuan pada diri manusia sesungguhnya adalah dalam rangka mengenal Allah Swt dengan segala konsekuensinya (tauhidullah)

Beramal tampa ilmu jelas sangat tidak rasional bagaikan kapal yang di ombang-ambingkan gelombang di tengah samudra luas sementara keinginan untuk cepat sampai ke daratan sangatlah tinggi,maka hanya mukzizat Allahlah yang paling berperan ketika itu. Begitu juga di dalam kehidupan ini,ibadah bukan hanya sekedar berdiri,rukuk ataupun sujud dalam shalat saja. Namun,setiap diri akan dituntut untuk melaksanakan apa sesungguhnya hikmah di balik perintah shalat itu,begitu juga ibadah-ibadah lainya selain menunaikanya dengan ikhlas perealisasian dari hikmah yang terkandung di dalamya harus menjadi prioritas utama dan tidak bisa di kesampingkan sama sekali. Jelasnya,raihlah keingginan dunia dan akhirat itu sebanyak-banyaknya dan imbangi ilmu itu dengan amaliah ikhlas dan penuh kekhusyukkan. Intinya manusia dapat menilai dan melakukan sesuatu dengan cermat dan hati-hati dan tidak ada kebajikan dalam ibadah kecuali diiringi dengan tafakur,tawakal,maupun perbuatan makruf lainya. Demikian pula didalam menunaikan ibadah-ibadah yang di wajibkan oleh agama,semuanya harus diiringi dengan ilmu dan pemikiran,yaitu memperhatikan dengan cermat dan penuh kehati-hatian segala tingkah laku kita dari awal hingga akhir ibadah tsb.

Orang yang selalu mengunakan ilmu dan pemikiran akan menghasilkan ladang amal dan akan selalu menjaga amalanya itu dari perbuatan-perbuatan tercela dalam hidup bersosialisasi dengan masyrakatnya. Sedangkan seseorang yang beramal tanpa di landasi ilmu dan pemikiran,jelas akan di ombang-ambingkan oleh hawa nafsu sehingga akan melahirkan kerugian dan kesia-siaan dalam amaliah tersebut. Amal tampa ilmu akan rapuh ibarat orang yang perutnya kosong dari bacaan Al Quran, karena itu bentengilah amal ibadah kita dengan lebih memperkaya laki ilmu pengetahuan khususnya tentang keagamaan dari berbagai sumber seperti sering membaca buku masalah akhirat,mendengarkan ceramah para ustad,dai dan membuang segala hal yang akan membuat amal ibadah kita tadi tidak bernilai di mata Allah Swt. Islam adalah agama yang menjungjung tinggi nilai-nilai sosial kemasyarakatan, menganjurkan setiap pemeluknya untuk saling beriteraksi,kasi-mengasihi,menjaga persatuan dan kesatuan di antara masyarakat tampa melihat perbedaan,selagi perbedaan tersebut tidak merendahkan atau menghina nilai-nilai keislaman itu sendiri.

Begitu juga di dalam menunaikan perintah yang telah di tetapkan syariat islam baik secara umum maupun khusus,sangat perlu sekali kita ketahui tentang rongrongan yang terus dilakukan Iblis dan Syaitan laknatulah. Dua makhluk laknatullah ini akan terus bekerja keras atas perintah hawa nafsu, masuk secepat kilat kedalam pikiran dan hati manusia agar menjadi sesat dan selalu menimbulkan perbuatan-perbuatan tercela yang akan mengugurkan amal ibadah kita.

Sifat tercela yang di latar belakangi oleh prilaku iblis dan syaitan,selain hasad,iri dan dengki adalah perbuatan ghibah atau sering kita istilahkan dengan menggunjing adalah suatu perangai yang sangat di benci oleh Allah,karena orang yang suka menggunjing suka membicarakan aib atau cela,keburukan orang lain dan diceritakan pula kepada orang lain. Hukum perbuatan ghibah/menggunjing ini termasuk dosa besar karena itu sangat di larang keras dalam islam,hal ini sesuai dengan firman Allah Swt dalan Qs Al Hujarat-12 “ Hai orang-orang yang beiman jauhilah kebanyakan dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain,dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati ?. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah pada Allah sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi maha penyayang”. Ayat Al Quran di atas juga di dukung sepenuhnya oleh hadis Rasulullah Saw “ Dari Abu Darda nabi Muhammad Saw bersabda barang siapa mencemarkan kehormatan saudaranya,maka Allah akan mencampakan kehormatan dirinya,maka Allah akan mencampakan api neraka melalui mukanya nanti pada hari kiamat’. ( HR Tarmuzi).

Dua petunjuk yang di turunkan Allah di atas seharusnya/hendaknya menjadikan diri kita lebih berhati-hati lagi dalam berkata-kata dan berbuat dengan terus mengevaluasi/mengintrospeksi diri agar apa yang kita berikan untuk Allah melalui amal ibadah yang murni jauh dari sifat ria tidak ternoda oleh prilaku-prilaku tercela lainya seperti menggunjing,mengadu domba,menyebar fitnah,hasad,iri,dengki,suka merendahkan orang lain dsb yang kesemuanya itu akan mengurangi bahkan menghilangkan nilai abadah kita.

Mari,mulai hari ini kita sama-sama mencoba lagi mempertanyakan diri kita sendiri secara jujur masih melekatkah perilaku tercela di dalam diri kita ?. Menjawabnya tentu memerlukan ilmu khususnya ilmu agama yang harus selalu di jalankan dengan sebaik-baiknya didalam mengarungi liki-liku kehidupan ini,itulah yang dituntut sepenuhnya oleh islam. Banyak sudah kita perhatikan apa jadinya seseorang yang beramal tampa memiliki ilmu tentang amalan tsb.

Shalat yang pelaksanaannya yang terkesan asal-asalan,krasak-krusuk bahkan suka malalaikan waktunya,bersedekah yang sering di sebut-sebut atau ria,ibadat taat gunjing,gibah,adu domba jalan terus,doa makin meningkat,mengupat,mencaci-maki tidak juga bisa dihentikan dsb. Kata Nabi Saw itulah salah satu gambaran dari orang-orang yang tidak memiliki ilmu dalam beramal,sehingga fungsi agama yang sesungguhnya yaitu sebagai pengendali jasmani dan rohani agar tidak kacau dan amburadul, tidak melekat sedikitpun dalam keseharianya. Pada hakekatnya kehancuran islam bukan disebabkan kuatnya musuh-musuh islam,tapi lebih disebabkan lemahnya ketahanan internal umat islam itu sendiri.

Jika, umat islam memiliki pemahaman ilmu pengetahuan yang tinggi baik dunia maupun akhirat,memiliki benteng iman yang kokoh. Maka serangan dalam bentuk apapun dan sedasyat apapun tidak akan mudah menjungkirbalikan posisi umat. Jadi, sudah seharusnya kita sebagai umat islam agar terus memperkokoh benteng keimanan kita dengan akidah dan pemahaman ilmu tentang islam dengan benar,&sungguh-sungguh kembali pada Al Quran dan Sunah Saw. Semoga yang maha kuasa melimpahkan ilmu yang bermanfaat didalam usaha menambah khazanah keimanan kita pada-Nya.

Allhumma inni as’alukal ‘ilman nafi’an – Ya Allah sesungguhnya aku memohon ilmu yang bermanfaat.

Rabbi dzidni ‘ilma – Ya Allah tambahkan aku ‘ilmu.

Wallahu a’lam.

Ditulis dalam Syi'ar Islam. Tag: . 1 Comment »

Satu Tanggapan to “Mengapa kita harus ber’ilmu?”

  1. 'Aisy Says:

    Na’am, jangan pernah lupa, Iman, Ilmu, Amal, Dakwah, Sabar, InsyaaAlloh.
    NB: Ahsan ditulis lengkap Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Oke


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: