Menggali Ilmu yang Bermanfaat

Rasulullah Saw bersabda; bahwa ada tiga hal yang tidak akan terputuskan, walaupun seorang manusia telah meregang ajal, yaitu; amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang shalih.

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang memiliki manfaat buat orang lain dalam menuju ketaqwaan kepada Allah, bukan menuju kefasikan. Hal ini bukan hanya menyangkut ilmu-ilmu agama secara ritual, namun yang non ritual pun memiliki dimensi dalam menopang ketaqwaan kepada Allah.

Ada seseorang yang dalam kehidupannya secara ekonomi sangat sulit. Kesulitan ekonominya ini menyebabkannya banyak mengeluh kepada Allah. Wajarlah apabila Rasulullah Saw berkata bahwa kefakiran lebih dengan kepada kekufuran. Manakala kita membantu orang tersebut, dengan mengajarkan ilmu ketrampilan menjahit, yang dengan itu menyebabkannya bisa mencari nafkah, mensedikitkan keluhan dari dirinya, maka sesungguhnya ilmu tersebut bermanfaat untuk menuju taqwa. Ketika ini terjadi maka para penduduk langit akan bershalawat untuk orang yang menafkahkan ilmunya, dan Allah pun melimpahkan rahmat-Nya kepadanya.

Agar para penduduk langit bershalawat dan Allah pun melimpahkan rahmat, maka kita harus meluruskan niat dalam mengajarkan ilmu. Niat yang tulus ikhlas untuk mendapat rahmat Allah inilah yang harus dibangun di hati. Apabila niatnya dirusak oleh keinginan mendapat balasan uang, pujian, popularitas, dan lain sebagainya -selain balasan Allah- maka akan merusak amalnya. Ilmu itu boleh jadi bermanfaat untuk orang lain, namun Allah tidak memberikan balasan atas cucuran keringat yang dikelurkannya dalam mengajarkan ilmu. Bahkan dalam sebuah hadits dikatakan, Allah memerintahkan malaikat untuk melemparkan amalnya tersebut, dan menulisnya sesuai dengan niatnya.

Orang yang sadar tentang manfaat mengajarkan ilmu kepada orang lain, maka mereka akan berbondong-bondong megajarkan ilmu. Ia tidak akan kikir terhadap ilmu yang dimilikinya. Ia akan senang ketika melihat orang lain bisa mengerjakan suatu hal yang sebelumnya tidak dapat dikerjakannya. Ia akan bergembira ketika melihat orang lain, lebih
mengerti dan memahami sebuah persoalan dari yang sebelumnya dalam kebodohan.

Dalam hadits yang lain, Rasulullah Saw berkata: “Allah senang terhadap orang yang belajar, namun lebih senang terhadap orang yang belajar dan mengajarkannya”. Kita semua sedang belajar dalam majelis ini. Sangat baik apa yang kita telah pelajari, maka kita sebarkan kepada yang lainnya. Semoga kita semua bisa menjadi orang-orang yang taat. Kita bukan hanya menjadi orang yang tangannya berada di bawah, tetapi membaliknya menjadi orang yang tangannya berada di atas. Bukankah Rasulullah Saw mengatakan bahwa orang yang tangannya di atas adalah lebih mulia di hadapan Allah, daripada orang yang tangannya di bawah?

Imam Ibnu Rajab (wafat 795 H) rahimahullah mengatakan, “Ilmu yang bermanfaat menunjukkan kepada dua hal. PERTAMA, Mengenal Allah Ta’ala dan segala apa yang menjadi hak-Nya berupa nama2 yang indah, sifat2 yang mulia, dan perbuatan2 yang agung. Hal ini mengharuskan adanya pengagungan, rasa takut, cinta, harap, dan tawakal kepada Allah serta ridha terhadap takdir dan segala musibah yang Allah Ta’ala berikan. KEDUA, Mengetahui apa yang diridhai dan dicintai Alla’Azza wa Ta’ala dan menjauhi segala apa yang dibenci dan dimurkai-Nya berupa keyakinan, perbuatan yang lahir dan bathin. Hal ini mengharuskan orang yang mengetahuinya bbersegera melakukan segala yang dicintai dan diridhai Allah dan menjauhi apa yang dibenci Allah. Apabila ilmu ini menghasilkan hal demikian bagi pemiliknya maka inilah ILMU YANG BERMANFAAT. Kapan saja ilmu itu bermanfaat dan menancap ke dalam hati, maka sungguh hati itu akan takut dan tunduk kepada Allah, jiwa merasa cukup dan puas denngan yang sedikit dari keuntungan dunia yang halal dan merasa kenyang dengannya sehingga hal itu menjadikannya qanaah dan zuhud di dunia.”

Imam Mujahid bin Jabir (wafat 103H) rahimahullah mengatakan, “Orang yang faqih adalah takut kepada Allah Ta’ala meskipun ilmunya sedikit. Dan orang yang bodoh adalah orang yang berbuat durhaka kepada Allah meskipun ilmunya banyak.” Perkataan beliau menunjukkan bahwa ada orang yang menuntut ilu dan mengajarkannya namun ilmu tersebut tidak bermanfaat bagi orang tersebut karena tidak membawanya kepada ketaatan kepada Allah.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Pokok ilmu adalh pengetahuan terhadap Allah Subhaanahu wa Ta’ala yang mendatangkan rasa takut dan cinta kepada-Nya serta selalu mendekat dan rindu kepada-Nya. Selanjutnya adalah pengetahuan tentang hukum2 Allah Ta’ala dan segala apa yang diridhai dan dicintai Allah dari hamba-Nya berupa perkataan, perbuatan, keadaan maupun keyakinan. Siapa saja yang terwujud dua ilmu ini pada dirinya maka ilmu itu adalah ilmu yang bermanfaat. Ia memperoleh ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyu’, jiwa yang merasa puas, dan do’a yang didengarkan.”

Beliau juga menambahkan, “ilmu yang paling utama adalah ilmu tafsir Al Qur’an, penjelasan makna hadits2 nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam, dan pembahasan tentang halal dan haram yang diriwayatkan dari para Sahabat, Tabi’in dan Tabiut tabi’in dan para ulama terkemuka yang mengikuti jejak mereka.”

Kini kita ketahui bahwa baik ilmu syar’i maupun ilmu dunia dapat menjadi ilmu yang bermanfaat dan dapat pula menjadi ilmu yang tidak bermanfaat. Semua tergantung kepada pengamalan daripada ilmu tersebut. Ilmu dunia seperti ilmu tentang anatomi tubuh manusia, DNA, dan sebagainya dapat pula mendatangkan rasa takjub kepada keagungan Allah yang Maha Pencipta.

Allahumma inni as’alukal ‘ilman nafian warizqon thoyyiban wa ‘amalan mutaqobalan – Ya Allah sesunguhnya aku memohon ilmu yang bermanfaat, rizqi yang baik, dan amal yang diterima.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: